Uncategorized

Apakah Totthenham Layak di Julukin Tim Besar ?

Tottenham Hotspur

Tottenham Hotspur cenderung menyatakan tren negatif di Premier League musim 2019/2020. Alih-alih bisa bersaing di perebutan juara, The Lilywhites justru tetap susah mendapatkan kedisiplinan di tiap pertandingan, setidaknya hingga pekan ke-9.

Dalam 10 musim ke belakang, Tottenham terbilang terus-menerus di 10 besar. Bahkan, musim 2016/2017, manajer Mauricio Pochettino bisa membawa tim London Utara itu bercokol di posisi runner up.

Manajer Harry Redknapp merupakan sosok yang dianggap berjasa membentuk Spurs hingga menjadi keliru satu tim kuat di Inggris. Meski urung memberikan gelar juara prestisius, kerangka tim yang ia ciptakan menyisakan legacy bikin suksesornya, seperti Andre Villas Boas, Tim Sherwood, hingga Mauricio Pochettino.

Tidak seperti tim-tim kaya raya lainnya di Inggris yang cenderung jor-joran dikala transfer, Tottenham justru tidak curiga untuk mengorbitkan pemain muda, baik itu dari akademi maupun pembelian langsung.

Nama-nama seperti Gareth Bale, Luka Modric dan Kieran Trippier sekedar sedikit dari lusinan eks Spurs yang sukses diorbitkan dan sedang nikmati karier sepak bola di area lain.

Saat ini, pemain-pemain seperti Harry Kane, Ryan Sessegnon, Dele Alli, Harry Winks, Oliver Skipp, hingga Kyle Walker-Peters siap ulang menjadi bukti kesuksesan pengelolaan bakat muda di Tottenham.

Sadar Spurs punyai potensi untuk menjadi keliru satu tim besar Premier League, manajemen klub menyokong perkembangan bersama dengan sejumlah cara, termasuk laksanakan renovasi White Hart Lane manfaat menambah reputasi tim.

Sayang, musim ini performa Spurs terbilang tidak cukup menggigit. Akankah tim yang sedang di dalam transisi menuju tim besar ulang menyandang klub kuda hitam?

Manuver Transfer Keliru

6 Deretan Pelatih Papan Atas yang Menolak Pinangan Real Madrid

Musim ini Tottenham belanja tiga penggawa anyar. Jack Clarke yang dibeli dari Leeds United langsung dipinjamkan ulang sebagai anggota dari klausul transfer.

Sementara itu, Spurs termasuk menjajakan tiga pemainnya, yaitu Trippier, Vincent Janssen dan Georges-Kevin N’Koudou. Fernando Llorente yang sulit bersaing bersama dengan Kane akhirnya dilepaskan cuma-cuma menuju Napoli.

Dari tiga pemain yang dijual, yang paling disayangkan adalah hengkangnya Trippier ke Atletico Madrid. Sebab, Spurs kini tinggal menyisakan Serge Aurier dan Kyle Walker-Peters di pos bek kanan.

Jauh sebelumnya, manajemen klub termasuk melego Kyle Walker ke Manchester City. Dilepasnya dua bek kanan itu ke klub lain tanpa tersedia pengganti yang seimbang membawa dampak lini pertahanan Spurs tak berimbang BANDAR DOMINO99

Aurier dinilai belum bisa memerankan perannya di kanan pertahanan Spurs sebaik Walker dan Trippier. Pelapisnya, bek muda Kyle Walker-Peters termasuk tidak cukup matang, khususnya dikala dipercaya bermain hadapi tim-tim besar.

Sementara itu, pemain-pemain baru yang didatangkan justru membawa dampak lini sedang Spurs menumpuk. Sebut saja Tanguy Ndombele, Sessegnon dan Giovani Lo Celso (pinjam dari Real Betis). Mereka mesti lebih pernah bersaing bersama dengan Moussa Sissoko, Victor Wanyama, Eric Dier, Alli, hingga Christian Eriksen DOMINO KIUKIU

Terbebani Status Klub dan Ekspektasi

Pemain Terbaik Liga Champions

Dahulu Premier League cuma mengenal arti big four. Namun, kini arti berikut ‘melar’ menjadi big five, apalagi big six.

Istilah big four atau top four tercipta dikarenakan adanya dominasi tim-tim yang itu-itu saja sejak masa 2000-an di empat besar. Mereka adalah Arsenal, Chelsea, Liverpool dan Manchester United.

Di luar empat klub tersebut, tersedia empat tim di luar top four clubs yang sempat menyebabkan kerusakan tatanan empat besar klasemen akhir di masa 2000-an, yaitu Leeds United, Newcastle United, Everton, dan Tottenham Hotspur.

Memasuki tahun 2010, dimulailah masa big six atau top six clubs. Dua klub lain yang sukses memasuki jajaran elit berikut yaitu Spurs dan Manchester City.

Klub-klub seperti Spurs dan Everton sejak pernah dikenal sebagai kuda hitam yang senantiasa menyebabkan kerusakan peta persaingan Premier League. Bahkan, Leicester City sempat menggoyang ‘liga terbaik dunia’ itu dikala sukses terlihat sebagai juara di musim 2015/2016.

Opini pun pecah di Inggris. Sebagian orang berpikiran Spurs sebagai tim kuat dan sering difavoritkan menjadi juara di dalam lebih dari satu musim belakang. Namun, banyak pengamat sepak bola Inggris menilai standing itu justru membebani DOMINO ONLINE

Ekspektasi yang dipikul Spurs pun di sisi lain membawa dampak mereka tertekan. Hugo Lloris cs seringkali tak bisa bermain lepas baik dikala hadapi lawan-lawannya.

 

 

 

Baca dan nonton film bioskop terbaru disini yuk :

Berita Online Nasional
Nonton Film Online